• maurizkac

Surat Eiger Bikin Geger


Baru-baru ini ada hal viral tentang surat menyurat (lagi) yang dijadikan pembicaraan oleh netizen hampir diseluruh platform media sosial, bermula dari Twitter, Instagram, Facebook, bahkan mungkin jadi pembicaraan di lingkungan kita semua. Pasti semua pembaca sepakat hal viral tersebut adalah brand lifestyle local, Eiger.


Diawali dari salah satu akun Twitter @duniadian, seorang konten kreator yang nge spill bahwa ia mendapat surat teguran dari pihak Eiger karena membuat konten honest review mengenai salah satu produk Eiger yaitu kacamata. Surat teguran dari pihak Eiger pasti nya bikin dia merasa gusar, wong saya gak diendorse kok saya ditegur, mungkin kata-kata itulah yang ada dibenak Dian dan juga netizen ketika membaca thread Twitter mengenai keluhannya tersebut






Netizen cinta spill the tea, bahan gosip baru nih!


Setelah pembicaraan dibiarkan (terlalu) lama dibiarkan oleh pihak Eiger yang akhirnya memunculkan obrolan yang lebih luas sampai membongkar semua kebusukan yang dilakukan oleh tim Legal Eiger, akhirnya mereka merespon kejadian viral ini dengan menerbitkan surat permintaan maaf didukung oleh permintaan maaf dari CEO Eiger, Ronny Lukito di berbagai media. Di lain hal, kasus ini justru semakin viral karena terkuak bahwa Eiger juga sering mengajukan kepada akun yang menjual produk serupa dari kompetitor untuk takedown produk tersebut di salah satu marketplace terbesar di Indonesia, Tokopedia.




Media Buffet, sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang komunikasi tentu geleng-geleng kepala, sesekali kita menebak, sebenarnya strategi komunikasi apa ya ini? Mencoba strategi eksposur brand? Strategi brand awareness? Marketing gimmick?


Komunikasi itu selalu punya 1001 cara untuk menggaet masyarakat dan komunitas dengan tepat, misalnya jika ditemukan ada salah satu konten kreator yang kurang maksimal dalam review produk kita mungkin kita sebagai PR suatu brand bisa langsung approach orang tersebut dan menawarkan review produk yang akan dikirimkan, kalau memang kekurangannya ada pada bagian visualisasi video, bisa juga ditawarkan tools penunjang visual untuk si konten kreator tersebut seperti mic wireless, lighting, dan sebagainya


Well, sebenarnya kasus ini bisa dikatakan sebagai kasus yang sepele di bidang komunikasi karena hanya dibutuhkan skill dan cara komunikasi yang tepat bagi brand menggaet komunitas dalam hal ini konten kreator agar bisa satu tujuan dengan brand kita, apa yang direview pun memang memiliki value terhadap brand dan bonus nya kita mendapat brand loyalty dari komunitas secara cuma-cuma.


Kira-kira Eiger butuh klarifikasi di podcast Deddy Corbuzier gak ya? Hahaha.


16 views0 comments