Storytelling Dalam Public Relations


Kata “Campaign” atau “kampanye” sudah tidak asing lagi dalam dunia Public Relations (PR). Dimana kampanye dapat diibaratkan menjadi sebuah senjata ampuh bagi seorang praktisi PR dalam mendapatkan target yang tepat dan akurat. Untuk mendapatkan target tersebut, mengandalkan senjata yang ampuh tidaklah cukup, melainkan dibutuhkan juga skill dalam mengoperasikannya. Hal ini memiliki arti bahwa dibalik senjata ampuh, dalam konteks ini kesuksesan sebuah kampanye, diperlukan skill khusus yang harus dimiliki praktisi PR jika ia ingin menjadi si “penembak jitu”.


Sebelumnya Media Buffet PR telah memberikan insight terkait skill-skill yang harus dikuasai oleh seorang PR. Namun pembahasan kali ini berbeda, dimana Media Buffet, PR Agency yang up-to-date dengan perkembangan tren-tren PR saat ini, akan mencoba untuk “spill the tea” atau membeberkan suatu rahasia dibalik kesuksesan sebuah kampanye PR itu sendiri.


Kesuksesan sebuah kampanye PR dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah pesan yang menyentuh dan sisi manusiawi. Dua faktor ini merupakan cikal bakal diperlukannya skill “storytelling” dalam membuat sebuah kampanye.


Lantas, mengapa storytelling?


Dengan storytelling atau bercerita, audience akan tenggelam dalam alur yang berisikan pesan-pesan humanis. Sehingga nantinya mampu membangkitkan kesadaran atau awareness masyarakat terkait acara, perusahaan, ataupun bisnis tertentu dan bahkan mampu membuat masyarakat secara sukarela untuk terlibat dalam kampanye tersebut.


Dalam buku berjudul IMC”0”Logy karya Pamungkas (2016) dijelaskan bahwa terdapat beberapa alasan mengapa otak manusia lebih menyukai pesan yang dibawakan melalui konsep cerita. Alasan-alasan tersebut diantaranya:


  1. The Story Describe My Life Cerita sering memberikan gagasan untuk mengatasi situasi-situasi yang mungkin akan dihadapi oleh manusia itu sendiri. Sebagai penggambaran, masyarakat akan terpengaruh dan lantas mengikuti sampai akhir rentetan cerita dari kampanye tersebut jika cerita yang dibawakan sifatnya relatable. Dalam hal ini, seorang praktisi PR dalam membuat pesan kampanye harus mempertimbangkan apakah pesan yang akan dibagikan relate dengan kehidupan mayoritas audience atau tidak.

  2. Emotional Connection Cerita dapat membantu seseorang mengatasi emosi yang ia tidak dapat ungkapkan sendiri. Melalui kampanye yang dilakukan dengan skill storytelling ini nantinya akan menciptakan hubungan emosional dengan audience yang dituju. Hal ini dikarenakan audience akan merasa bahwa ia tidak sendiri untuk merasakan emosi tersebut. Selain itu, yang perlu PR Agency pahami adalah dalam membuat sebuah pesan kampanye lebih baik menyisipkan sisi-sisi emosional dan personal tanpa menyinggung pihak siapapun.


Last but not least, dengan skill storytelling ini, praktisi PR dapat menunjukan sisi humanis dari kampanye yang dibuat, dimana “sebuah mesin” tidak dapat menunjukkannya.




Written by Putri Agna, Public Relations Intern Media Buffet PR


53 tampilan0 komentar

Postingan Terkait

Lihat Semua