Mengenal Ancaman dalam Dunia PR: PR Crisis

Diperbarui: 27 Des 2021


Warren Buffett, pebisnis terkenal dari Amerika Serikat pernah bilang “It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it. If you think about that, you will do things differently.” Apa yang disampaikan oleh Warren Buffett ini berhubungan banget dengan yang namanya krisis komunikasi. Sebagai seorang PR, kita harus paham bahwa tiap perusahaan maupun organisasi tidak bisa lepas dari ancaman krisis komunikasi.


Apa sih, pengertian krisis itu? Secara sederhana, krisis adalah masalah tidak terduga yang dapat membawa kerugian kepada perusahaan atau organisasi terkait. Sementara itu, krisis komunikasi diartikan sebagai masalah terkait komunikasi kepada publik yang berpotensi merusak reputasi dan image suatu organisasi maupun perusahaan.


PR Crisis dapat dipicu oleh berbagai hal, seperti pelayanan yang buruk, produk atau jasa yang dianggap tidak sesuai, tindakan kriminal oleh internal perusahaan, investigasi pemerintah, korupsi, dan lain sebagainya. Sebagai seorang PR, skill dalam mengelola krisis komunikasi menjadi penting karena krisis harus dikelola dengan cepat dan tepat. Perlu digarisbawahi nih, bahwa permasalahan waktu adalah hal yang cukup krusial dalam penanganan krisis. Terlambat sedikit aja, krisis dapat berkembang menjadi masalah yang semakin sulit diatasi.


Oh iya, seorang PR tentunya harus melakukan tindakan preventif sebelum krisis komunikasi terjadi. Nah, salah satu cara yang dilakukan PR untuk memprediksi krisis komunikasi yang akan terjadi adalah dengan melakukan media monitoring. Inilah yang dilakukan oleh Media Buffet PR dalam kesehariannya. Sebagai Public Relations dan Digital Marketing Agency, Media Buffet PR menyadari pentingnya memonitor media untuk tahu persepsi publik serta trend yang terkait dengan ranah industri klien.


Kembali ke laptop! Selain mempertimbangkan masalah waktu, seorang PR juga harus bisa menyelesaikan krisis komunikasi dengan tepat. Maka dari itu, penting untuk menyiapkan strategi komunikasi dalam menangani krisis yang sedang terjadi.


Studi Kasus: PR Crisis Eiger


Beberapa waktu lalu, Eiger sempat ramai diperbincangkan di media sosial khususnya Twitter, yang pernah Media Buffet PR ulas di Surat Eiger Bikin Geger. Hal ini bermula ketika perusahaan yang memproduksi pakaian dan peralatan rekreasi alam ini mengirimkan surat keberatan kepada youtuber atas review produk yang diunggah di kanal youtube-nya. Tidak terima, sang youtuber pun menyebarkan surat keberatan yang ditandatangani oleh HCGA dan Legal General Manager perusahaan ini melalui Twitter. Tidak lama, postingan tersebut mendapat banyak respon negatif dari para netizen yang menyayangkan tindakan Eiger.


Berdasarkan surat permintaan maaf yang disampaikan oleh CEO perusahaan, ternyata maksud awal Eiger mengirimkan surat keberatan pada youtuber adalah sekadar untuk memberi masukan supaya membuat konten review yang lebih baik lagi. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur, krisis komunikasi telah terjadi, dan jari-jari netizen pun beraksi.


Jadi bisa disimpulkan ya, selain pandai dalam berkomunikasi kepada publiknya, seorang PR juga harus jeli melihat kemungkinan adanya krisis komunikasi. Kalau tidak, bisa ribet nantinya~


Written by Debora Septenia, Public Relations Intern at Media Buffet PR

265 tampilan0 komentar

Postingan Terkait

Lihat Semua