• Rahadian Omar

Krisis PR Campuspedia, Salah Kebijakan Perusahaan atau Karyawan yang Iya-iya Saja?


Magang Campuspedia

Campuspedia viral di sosial media belakangan ini, dan menjadi sorotan media nasional karena membayar anak magang 100 ribu, dengan denda 500 ribu apabila mereka resign. Krisis PR seperti ini merupakan topik yang sangat renyah untuk dicerna dan dipelajari, terutama bagi Media Buffet PR sebagai PR Agency yang memiliki pengalaman bergelut menangani krisis PR serupa.


Di sini Media Buffet PR tidak ingin membahas dari sisi regulasi Permenaker nomor 6 tahun 2020. Percuma rasanya membahas peraturan yang tingkat kepatuhan dan pengawasannya masih minim juga. Lagipula, akan lebih menarik apabila isu ini dipandang dari penanganan krisis PR dari pihak Campuspedia, dan juga dari pelajaran yang bisa diambil bagi para mahasiswa yang ingin melakukan magang.


PR Crisis Campuspedia dari perspektif pemberi kerja

“Campuspedia adalah sebuah platform untuk berbagi informasi kampus, jurusan, beasiswa, profesi, karir, dan events yang dikemas secara informatif dan edukatif”. Kalimat barusan adalah kutipan langsung dari profil LinkedIn Campuspedia.


Ironis rasanya melihat perusahaan yang menawarkan platform informatif dan edukatif yang membahas kampus dan karir (termasuk persiapan magang tentunya), tidak mengambil pelajaran dari ilmu yang mereka berikan sendiri.


Langkah CEO Campuspedia yang cepat dan tanggap memadamkan api amarah netizen dengan membuat rilis berisi permintaan maaf dan pernyataan akan mengevaluasi kebijakan, tentu patut diapresiasi. Namun, sepertinya klarifikasi yang dilakukan sedikit ‘kejauhan’ ya. Karna dalam pernyataan lain dengan media, CEO Campuspedia mengaku bahwa anak magang tidak ada yang mempertanyakan soal gaji dan denda, dan semuanya sudah tercantum dalam kontrak sejak awal.


Tentu pernyataan tersebut tidak perlu dilontarkan, karena pertanyaan yang muncul dari benak masyarakat dan lebih penting untuk dijawab adalah “Kok bisa sih ngegaji orang cuma segitu? Pake denda lagi!”. Tidak tepat rasanya bagi seseorang selevel CEO, mengoper bola permasalahan ke anak magang polos yang tidak bertanya-tanya dan tetap menandatangani kontrak berisikan upah yang hanya bisa bertahan untuk beli makan 5 kali di Surabaya, tempat di mana mereka magang.


Akan lebih bijak kalau setiap kali CEO Campuspedia membuat pernyataan dengan media, maka pernyataan tersebut berdasar dari rilis permintaan maaf yang sudah dibuat sedari awal. Akan lebih baik juga apabila CEO mengambil tanggung jawab penuh atas kasus yang terjadi, tanpa menunjuk jari.


Dalam kasus ini, yang harus dibenahi adalah kebijakan magang Campuspedia itu sendiri, bukan keputusan anak magang yang setuju-setuju saja untuk bekerja dengan upah yang tidak manusiawi. Ini pelajaran yang sangat berharga bagi perusahaan startup lainnya, tentang bagaimana perilaku terhadap karyawan pada akhirnya akan mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap kredibilitas perusahaan itu sendiri.


Pelajaran untuk yang ingin magang

Ibarat harga mobil bekas yang belakangan ini melejit tinggi namun masih laku-laku saja, entah kenapa lowongan magang Campuspedia dengan upah yang tidak seberapa masih saja diisi oleh para mahasiswa yang haus akan pengalaman kerja.


Semua kembali kepada prioritas. Dalam kasus ini, pada umumnya kepentingan mahasiswa untuk mengikuti program magang adalah mendapatkan pengalaman kerja, menambah daftar kredensial di CV, atau bisa juga memenuhi SKS kuliah.


Menarik untuk melihat dari sisi psikologis calon karyawan magang. Karena di situasi pandemi ini yang rasanya teramat sulit untuk sekedar mendapatkan pekerjaan bahkan magang sekalipun, sepertinya mahasiswa yang ingin magang rela mengorbankan apapun untuk mendapatkan kesempatan magang dengan upah berapapun. It’s a matter of priority, but it gets too far.


Karena itu, teman-teman mahasiswa jangan sampai lupa dengan hak yang kamu berhak dapatkan selama mengikuti program magang ya. Penting untuk kamu melakukan beberapa riset sebelum memutuskan untuk menandatangani kontrak di instansi tersebut.


Lakukan riset mendalam terhadap perusahaan yang ingin kamu apply dan pahami hutan belantaramu, seperti yang dikatakan CEO Media Buffet, Bima Marzuki. Riset ini dapat meliputi kebijakan magang yang diterapkan di perusahaan tersebut seperti contohnya jam kerja, kebijakan perusahaan apabila karyawan magang sakit atau izin, ketentuan resign, jangka waktu magang, upah per bulan, job desc, dan masih banyak lagi. Dengan melakukan riset, maka kamu akan mengetahui kurang lebih pekerjaan apa yang akan kamu lakukan nantinya, dan hak serta insentif apa yang kamu dapat selama magang nantinya.


Bagi Media Buffet PR sendiri, setiap karyawan magang di PR Agency seperti Media Buffet merupakan bagian yang sangat krusial bagi tim, yang terlibat dengan intensitas kerja yang setara dengan tim inti. Dengan begitu, anak magang yang minim pengalaman akan belajar sangat banyak di Media Buffet PR, dan anak magang yang sudah memiliki pengalaman dapat mengasah kemampuannya secara langsung di Media Buffet PR. Nggak percaya? Simak cerita pengalaman mereka disini.

72 tampilan0 komentar

Postingan Terkait

Lihat Semua