CEO Startup Sering Error dan “Mengakuisisi” Crisis: Disini Peran Public Relations Dibutuhkan



“Ketika startup mengalami krisis besar di social media, dia mesti mendengarkan dengan baik percakapan yang terjadi di social media. Lalu dari data itu baru dibuat keputusan apa yang harus dilakukan selanjutnya.” ucap Bima Marzuki selaku CEO & Founder dari Media Buffet PR pada video DSCUSSION Daily Social TV.


Krisis nampaknya kerap jadi fenomena yang muncul di kalangan startup akhir - akhir ini. Permasalahan yang biasanya ter-blow up di sosial media, hingga langkah penanganan yang diambil perusahaan startup tak luput dari pembahasan netizen dan headline - headline berita.

Apa itu PR Crisis?


PR crisis adalah segala aktivitas / hal negatif yang dapat merusak reputasi perusahaan dan berakibat fatal bagi operasional perusahaan serta mempengaruhi hubungan baik antara perusahaan dan stakeholdernya.


Terdapat perbedaan antara isu dan crisis. Sebuah crisis tentu diawali dari isu, tetapi tidak semua isu selalu menjadi crisis. Penanganan antara isu dan crisis juga jelas berbeda. Sebuah isu dapat menjadi crisis apabila isu tersebut mempengaruhi alur kerja perusahaan, membuat petinggi dan pekerja perusahaan terganggu, dan berpotensi merusak reputasi brand. Oleh sebab itu, kenali terlebih dahulu isu yang agar dapat membuat langkah selanjutnya tanpa gegabah.


Dampak dari PR crisis juga beragam mulai dari reputasi perusahaan yang tercemar hingga yang terburuk membuat perusahaan bangkrut. Itulah mengapa, sebuah perusahaan tidak bisa menyepelekan PR crisis.


Lalu, Tim PR Harus Apa?


Menurut CEO kita, Bima Marzuki, dalam memberikan solusi terhadap crisis yang banyak dialami startup, dewasa ini crisis yang sering bermunculan berasal dari media sosial. Jadi sebaiknya sebelum sebuah crisis muncul, tim PR dapat memantau media sosial secara seksama.


Langkah selanjutnya adalah mendengarkan. Agar dapat menghasilkan pesan yang efektif, seorang PR harus dapat mendengar dengan baik. Jika sebuah startup mengalami crisis di media sosial, tim PR pada perusahaan tersebut harus mendengarkan dari mana isu tersebut muncul, berapa banyak yang membicarakan isu tersebut, bagaimana konteksnya, serta siapa saja key influencer-nya.


Hal tersebut akan berguna dalam menentukan langkah apa yang tepat untuk dilakukan setelahnya. Tidak berhenti sampai disitu, menurut Bima setelah post-recovery juga tidak kalah penting. Fungsinya adalah untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan dari adanya crisis tersebut.


Wawancara ini bisa disimak secara lengkap di video DSCUSSION Daily Social TV, yang dipandu oleh Yenny Yusra dengan bahasan seputar pengalaman Bima Marzuki dalam membangun eksistensi startup lewat Public Relations campaign serta bagaimana Public Relations bisa membuat startup bertahan di kompetisi pasar Indonesia mulai dari membangun brand awareness, credibility, hingga mengatasi PR crisis.


Written by Hasna Fithiryah, PR Consultant Intern at Media Buffet


18 views0 comments