Antara Public Relations dan Wartawan, Bukan Sekadar Saling Membutuhkan



“Belum pernah mengundang ke acara, sama sekali belum pernah kontak, lalu kirim press release, tapi tiba-tiba terus menerus nanya apakah beritanya sudah publish, situ sehat?”

Kalimat yang ditulis oleh salah seorang wartawan di media sosialnya ini sudah menjadi semacam joke atau anekdot di kalangan wartawan untuk menyindir kerja para Humas atau Public Relations (PR) perusahaan.


Sudah bukan rahasia lagi jika ada hubungan simbiosis mutualisme antara wartawan dan praktisi PR perusahaan. Wartawan butuh informasi untuk dijadikan berita, dan para pekerja PR perusahaan butuh wartawan untuk mempublikasikan informasi tentang perusahaannya agar bisa sampai ke publik (pembaca). Namun yang tidak banyak diketahui, hubungan ini tidak terjadi begitu saja.


Bagi PR, salah satu goal atau indikator kesuksesan adalah ketika press release yang didistribusikan banyak dipublikasikan di media. Akan lebih senang jika ada wartawan yang kemudian melakukan follow up untuk menggali lebih detil tentang topik informasi yang disampaikan di press release bahkan meminta waktu untuk wawancara lebih dalam dengan orang-orang penting di perusahaannya. Artinya, topik yang diangkat memang benar-benar menarik bagi wartawan.


Bagi wartawan, kehadiran PR perusahaan sangat banyak membantu kerja mereka. Pertama, wartawan butuh informasi untuk dijadikan berita. Sebuah pers release bisa menjadi semacam trigger atau pemicu untuk memunculkan ide sebuah berita yang ingin ditulis. Kedua, salah satu jalur untuk mendapatkan kontak seorang narasumber bisa didapatkan dari praktisi PR yang mereka kenal.


Pertanyaannya, jika memang sama-sama saling membutuhkan kenapa tiba-tiba muncul sindiran seperti di atas dari wartawan?


Beberapa tips dari praktisi PR profesional berikut bisa menjadi jawabannya:


Do Your Research

Jangan pernah berpikir bahwa wartawan bisa menulis semua topik atau informasi yang diberikan. Di dalam struktur kerja mereka, wartawan terbagi atas beberapa job desk atau tugas liputan sesuai dengan topik pemberitaan. Wartawan dengan job desk di bidang ekonomi, misalnya, tentu saja akan mengabaikan press release tentang bidang teknologi yang diterimanya.


Agar topik informasi yang Anda miliki jatuh ke tangan yang tepat, lakukan riset kecil tentang media atau wartawan yang sesuai dengan topik tersebut. Misalnya dengan melihat pada bagian byline sebuah berita online. Byline merupakan bagian dari sebuah berita yang mencantumkan nama wartawan dan editornya.


Building a Relationship in Real Life


Jocelyn Sexton dari Dover Fueling Solutions mengatakan bahwa perusahaannya kerap mengadakan media meeting secara offline untuk membangun hubungan dengan wartawan. “Kami berdiskusi seputar kalender editorial mereka, mencari topik informasi apa yang mereka butuhkan dan menawarkan bantuan terkait informasi yang paling relevan dengan perusahaan,” jelasnya.


Membangun hubungan dengan media tidak sebatas mengirim press release atau mengundangnya ke acara-acara seremonial perusahaan Anda. Mengadakan acara khusus yang benar-benar didedikasikan untuk media adalah cara yang efektif untuk membangun hubungan dengan media.


Tak perlu acara besar dan megah, hanya dengan mengumpulkan tiga sampai lima media untuk diajak bertemu di sebuah kedai kopi sudah cukup. Yang penting intens dilakukan. Dengan begitu wartawan merasa dihargai dan relasi bisa dibangun dengan tulus, terlepas dari segala kepentingan.


It’s a Marathon, Not a Sprint

Menjalin hubungan dan terkoneksi dengan wartawan bukan perkara mudah. Maksudnya, Anda tidak bisa berharap langsung terhubung dengan mereka hanya dengan mengundang mereka ke sebuah event, memperkenalkan diri lalu berharap wartawan bisa segera mengingat Anda.


Wartawan bisa bertemu dengan dua orang atau lebih dalam satu hari. Dalam lima hari kerja mereka bisa saja bertemu dengan 10 orang atau lebih. Bisa dibayangkan jika Anda hanya muncul sekali lalu menghilang, apakah mereka akan memiliki ingatan tentang diri Anda?


Menurut Parna Sarkar-Basu dari Brand and Buzz Marketing, LLC, membangun hubungan di luar pekerjaan dengan wartawan penting dilakukan. ‘Saya berkomunikasi dengan media lewat berbagai cara, misal terhubung dengan media sosialnya sehingga saya bisa mengetahui topik-topik apa yang paling disukainya,” ujarnya.


Jika Anda merasa tak memiliki cukup waktu membangun semua hal di atas, mungkin sudah saatnya perusahaan Anda membutuhkan PR Agency.


Membangun hubungan di luar pekerjaan dan menjalin komunikasi yang efektif dengan wartawan adalah strategi komunikasi yang sering kami lakukan di Media Buffet PR Agency. Sebagai sebuah PR Agency, kami menganggap wartawan bukan sekedar sebagai orang ketiga yang ada di antara kami dan klien kami.


Lebih dari itu, wartawan bagi kami adalah partner dalam bekerja juga bermain. Di satu waktu kami bertemu wartawan di sebuah event yang kami adakan, di lain waktu kami bisa bertemu dalam satu lapangan basket atau futsal untuk bermain.


57 tampilan0 komentar

Postingan Terkait

Lihat Semua